_MG_6335a

Farmhouse Bandung

Ketika orang mendengar kata Bandung, pasti akan terbesit dalam benaknya akan kuliner, fashion, tempat wisata, dan lain sebagainya. Akupun juga demikian, makanya ada kesempatan untuk menyambanginya, gak akan aku sia-siakan. List tempat wisata-pun telah disusun dengan rapi, namun akhirnya tidak semua dapat “terjamah” karena keterbatasan hari di Bandung.

Orang selalu bilang bahwa Bandung itu sebelas-duabelas sama dengan Jakarta, yaitu macetnya, terlebih lagi pas weekend dan liburan. Oleh sebab itu, saya mencoba untuk “menjamah” Bandung ketika masih puasa, tepatnya di akhir bulan puasa. Sebagai muslim (meski belum bisa dikatakan muslim yang baik, karena sampai sekarang masih belajar, gak tau kapan lulusnya…hehehehe), kewajiban untuk mejalankan ibadah puasa tetap dijalankan. Puasa bukan alasan saya bermalas-malasan apalagi mencoba mengunjungi tempat wisata yang baru buat saya.

Aaaaaah… Kelamaan, mending langsung saja.

First Day (Sorri bro, sok inggris, karena dulu gak pernah lulus ujian inggrisnya…. hehehhe).

Perjalanan dimulai di daerah Bandung Utara, yakni  mengunjungi farmhaouse di daerah Lembang. Disana setiap pengunjung mendapatkan tiket yang dapat ditukar dengan susu atau sosis secara gratis dengan cara menunjukkan tiket. (Karena alasan puasa, jadi susu n sosis gak dimakan disaat itu juga). Meski tidak luas, kawasan Farmhouse mampu menarik pengunjung dengan banyaknya, buktinya ketika saya mo ambil foto LS (Landscape)  amat sangat kesusahan, karena saking banyaknya manusia yang dateng. Akhirnya banting stir, pindah haluan ke foto Candid.

Dengan kondisi geografis Bandung yang di daerah pegunungan, apalagi di Farmhouse yang lebih dingin lagi, ternyata telah 2 jam muter2 di Farmhouse ini. Dan ini menunjukkan bahwa waktunya untuk melanjutkan ke spot selanjutnya.

Destinasi selanjutnya dan masih di hari pertama adalah Gunung Tangkuban Perahu. Tak jauh dengan Farmhouse, Gunung Tangkuban Perahu yang terkenal dengan kawahnya, juga banyak dikunjungi oleh wisatawan. Niat awal pengen LS dengan latar belakang kawah Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif, berubah lagi ke Candid. Dan Alhamdulillah, pada saat saya dan rombongan tiba, sedang diadakan acara keagamaan yang sedang dilangsungkan di sisi atas Kawah Gunung Tangkuban Perahu. Ya itung-itung buat dokumentasi kegiatan keagaamaan, tanpa pernah berniat untuk mengganggu kekhusyukan mereka dalam beribadah (saya dalam hal ini menggunakan lensa tele 55-250 canon).

Destinasi terakhir akhirnya tertuju kepada Floating Market yang masih berada di sekitaran Lembang. Ketika kami datang, kami disambut dengan turunnya hujan. Tempat ini semacam danau buatan yang kemudian ditepi danau dibuat semacam kedai, jadi para pelancong bisa menikmati jajanan sambil menaiki perahu kecil. Akan tetapi, mereka juga bisa membeli makanan tanpa harus naik perahu dan telah disediakan tempat makan di sekitar stand tersebut.

Advertisements

image

Maro, seorang anak kecil yg berusia 12 tahun dan masih belajar di tingkat SD bersama ayahnya merencanakan perjalanan ke puncak tertinggi di dunia yaitu gunung everest (8.484m). Sang ayah yang notabene adalah seorang pendaki gunung, berencana mengajak anaknya yang masih kecil untuk mendaki atap dunia. Segala persiapan mereka lakukan demi mencapai puncak tertinggi dunia tersebut.
Perjalanan mereka pun dimulai. Mereka terbang menuju Khatmandu. Dari sini kenakalan ayah-anak mulai muncul. Bagaimana ayah maro yang tengah dinanti oleh para sherpa (semacam porter bagi orang yang naik gunung) karena ayah Maro yang masih berhutang kepada mereka dari perjalanannya yang dulu sampai bagimana mendapatkan harga hotel yang sedikit lebih miring dari harga sebenarnya. Akhirnya ayah Maro mencari alasan buat lari dari para sherpa tersebut. Dan akhirnya mereka mampu meloloskan diri dan pergi menuju sebuah hotel.
Sebelum naik ke puncak, mereka berbelanja kebutuhan-kebutuhan yang mereka perlukan selama perjalanan menuju puncak everest, termasuk mencari sherpa yang bersedia menemani petualangannya. Akhirnya mereka menemukan sherpa yang bernama Phassang. Akhirnya setelah persiapan lengkap, mereka bersiap untuk naik ke puncak dengan anggota baru yaitu Angmaya ( anak sherpa Phassang).
Dengan gaya yang sok jagoannya, Maro berusaha mengambil perhatian dari Angmaya selama perjalanan menuju puncak. Sampai akhirnya, karena disebabkan penyakit yang timbul karena ketinggian, Angmaya tidak bisa melanjutkan perjalanan dan harus kembali ke khatmandu guna mendapatkan perawatan lebih lanjut disertai oleh ayahnya sherpa Phassang. Sisa waktu yang ada, digunakan oleh Maro dan Ayahnya untuk mencapai tujuan mereka sampai puncak atap dunia yakni everest. Meskipun selama dalam perjalanan mereka harus berjuang dengan kondisi alam yang berubah-ubah sampai pada peristiwa badai salju yang melanda. Akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia, meskipun harus berjuang melawan ganasnya alam dan ketinggian, Maro anak usia 12 tahun beserta ayahnya mampu menjejakkan kaki di puncak tertinggi dunia yang dikenal dengan atapnya dunia yaitu Everest.
Cerita ini meski ditampilkan dalam sebuah komik, akan tetapi memberikan pengetahuan yang luas kepada pembacanya, apa itu everest? bagaimana kondisi alam disana? Perbekalan apa saja yang harus disiapkan? Cara2 yang harus dilakukan jika mendapatkan badai salju? Peralatan apa saja yang harus disiapkan? Dan berbagai macam penyakit yang ditimbulkan karena ketinggian.
Sebuah buku yang menarik untuk dibaca, ringan, bisa dibaca oleh siapapun dari kalangan manapun yang mampu memberikan informasi ilmiah dari alam yang bernama everest.

Tetep melangkah menatap masa depan yang lebih baik lagi.
Masa lalu jadikan sebagai pembelajaran di masa yang akan datang.
Berdamai dengan masa lalu adalah sebuah keputusan untuk kedamaian hati di masa sekarang dan masa depan.
Masa lalu hanya sebuah sejarah dan masa depan adalah tantangan dalam hidup kita.
“This is my quote”

View on Path

Setelah lama vakum dalam dunia tulis menulis, akhirnya minat itu timbul lagi di awal tahun 2016 ini. Meskipun sedikit telat, karena telah masuk bulan ke-2 di tahun 2016 ini. Tapi tak apalah daripada nggak sama sekali.
Berawal dari rencana yang serba mendadak, karena gak direncanain jauh-jauh hari (kami selalu sadar klo jalan2 direncanain jauh2, pasti gak pernah jadi n ini telah terjadi di masa2 sebelumnya.), akhirnya kami memutuskan jalan2 ke kota pangkalan bun di Kalimantan Tengah dengan naik sepeda motor. Dan ini baru pertama kalinya kami naek sepeda motor ke pangkalan bun sejak menginjakkan kaki pertama kali 2008. Perjalanan dari rumah di mulai jam 2 siang, kami (saya, panji, rika, diah) menggunakan sepeda motor yg semuanya adalah pinjaman (kamsia mang iman n mak trully atas pinjaman motornya). Di tengah jalan ban belakang kami, semua motor kempes semuanya dan harus menggantinya dengan yg baru, sekalian istirahat. Sekitar jam 6 sore, akhirnya kami masuk kota pangkalan bun dan diawali dg berfoto dibundaran besar.
Karena rencana awal mau menikmati sunset di pantai kubu, tapi karena udah terlambat akhirnya kami memutuskan menginap di Kumai, berharap bisa menyebrang ke Tanjung Puting. Karena itulah harapan kami, liburan ke Taman Nasional Tanjung Puting yg sejak 2008 belom pernah kesampaian kesini. Semoga doa n harapan itu, kali ini bisa terkabul. Amiin.

Hari ini

June 2018
M T W T F S S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Teman Sharing

1. Panji Irfan,S.Pd (Guru Bahasa Indonesia/SMP Tunas Agro)
2. M.Iman Firmansyah,S.Pd (Guru IPA-Fisika/SMP Tunas Agro)
3. Nurul E. Aprianti (Guru Bahasa Indonesia)
4. Slamet Hidayat,S.Or (Guru Olah Raga/SMP Tunas Agro)

Kumpulan Tulisan

Apresiasi Tulisan

Kategori Tulisan

Advertisements